Selasa, 03 Mei 2011

Blok Frekuensi 3G Terakhir Siap Jadi Rebutan


Satu blok kanal pita selebar 5 MHz yang tersisa di rentang frekuensi 2,1 GHz akan dikaji untuk diperebutkan lewat tender oleh lima operator seluler pemegang lisensi 3G.

Seperti diketahui, lima operator tersebut adalah Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Hutchison CP Telecom (Tri), dan Natrindo Telepon Seluler (Axis).

Dari rentang 60 MHz yang tersedia di pita 2,1 GHz, masing-masing operator sudah kebagian jatah 5 MHz. Dengan demikian masih tersisa 35 MHz.

Namun kemudian, Telkomsel, Indosat, dan XL, meminta kanal tambahan (second carrier) 5 MHz lagi demi mengantisipasi peningkatan trafik data. Frekuensi yang tersisa pun menjadi tinggal 20 MHz.

Dari sisa rentang frekuensi itu, menurut Nonot Harsono, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), 10 MHz menjadi cadangan (reserved) untuk Axis dan Tri.

"Meskipun masih ada sisa 10 MHz lagi di 2,1 GHz, namun sisa alokasi yang digunakan untuk 3G hanya tinggal satu kanal. Satu kanal lainnya tak bisa diganggu gugat karena digunakan untuk guardband frekuensi di perbatasan 1900 MHz yang saat ini ditempati Smart Telecom," papar Nonot kepada detikINET, Selasa (3/5/2011).

Nah, mengingat terbatasnya alokasi spektrum sementara peminatnya banyak, BRTI pun coba mengkaji kemungkinan untuk mengadakan tender bagi peminat tambahan frekuensi 3G di blok terakhir tersebut.

Nonot pun mengungkapkan, saat ini sudah ada dua operator 3G yang mengajukan tambahan frekuensi agar memiliki tiga kanal (15 Mhz) dari sebelumnya dua kanal (10 Mhz) yakni XL Axiata dan Telkomsel.

"Jika Indosat, Axis, atau Tri juga menginginkan tambahan kanal ketiga, sepertinya tender harus dilakukan agar ada transparansi dan akuntabilitas. Solusi lainnya adalah membuka spektrum 2,3 GHz bagi pemain 3G," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tidak akan rumit jika operator memegang komitmennya dalam melakukan refarming (penataan) blok frekuensi milik sendiri dan hingga sekarang belum adanya kesanggupan membayar blok 3G dari Axis dan Tri hingga 10 tahun mendatang.

Dahulu, saat mendapatkan blok frekuensi 3G kedua, Telkomsel mengeluarkan dana sebesar Rp 320 miliar untuk upfront fee,  selain Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi tahun pertama sebesar Rp 160 miliar.

Sementara Indosat mengeluarkan dana sebesar Rp 352 miliar (upfront fee + BHP tahunan) dan XL menguras kantongnya sebesar Rp 487,6 miliar (upfront fee+BHP).

Besaran pembayaran berbeda-beda karena pemerintah memberikan dua opsi pembayaran. Operator dibolehkan  membayar besar di depan, namun kecil untuk selanjutnya atau sebaliknya.


Sumber : detiknet.com

Melakukan Panggilan Telepon dengan Pikiran

Pikirkan saja nomor telepon yang dipanggil, dan Anda langsung terhubung ke nomor tersebut. Ini bukan adegan dalam pertunjukan seorang ilusionist, melainkan sungguh terjadi berkat sebuah penemuan terbaru.

Sekelompok ilmuwan di University of California, San Diego, Amerika Serikat (AS) mengembangkan sebuh sistem yang memungkinkan pengguna melakukan panggilan telepon hanya dengan memikirkannya.

Sebagai penemuan baru, metode ini diklaim cukup akurat. Para pengembangnya optimistis, temuan ini bisa sangat bermanfaat bagi orang cacat atau siapa saja yang memerlukan fungsi hands-free lebih.

Tzyy-Ping yang mengepalai penelitian ini, menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkannya bersama timnya, melacak aktivitas elektrik pada otak dengan alat berupa ikat kepala khusus yang dilengkapi elektroda dan Bluetooth.

Dilansir Mashable dan dikutip detikINET, Rabu (13/4/2011), pengguna yang menggunakan ikat kepala yang terhubung dengan komputer ini akan diperlihatkan sederet angka dari 0 sampai 9 pada layar.

Setiap digit yang dipikirkan akan berkedip dan terdeteksi oleh elektroda. Selanjutnya, Bluetooth akan mengetahuinya sebagai nomor yang akan dihubungi dan meneruskannya ke ponsel untuk melakukan panggilan. "Tingkat akurasinya sudah mencapai 70 hingga 85 persen," klaim Ping.

Bagaimana pun, temuan ini masih berupa prototype dan perlu pengembangan lebih lanjut. Namun setidaknya, ini memperlihatkan potensi pengembangan perangkat dengan interface berbasis pikiran kian berkembang. Seperti diketahui, sudah ada pula penemuan komputer dan kursi roda yang dioperasikan dengan pikiran.

Sumber : detiknet.com

Indonesia Dorong Open Source ke ASEAN


Sebagai ketua dalam program flagship Open Source System (OSS) di ASEAN Workshop to Draft The Implementation Plans of Commite in Science and Technology (COST) Flagship Programmes, Indonesia berharap OSS jadi pilihan sistem operasi yang digunakan di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia dipandang oleh negara-negara ASEAN telah mampu dan berhasil membangun OSS sebagai pilihan perangkat lunak yang bisa digunakan. Untuk itu, dalam kesempatan ini Indonesia akan menunjukkan pengalamannya dalam membangun dan mengembangkan open source.

"Indonesia akan berjuang mewujudkan visi 2015 yang telah disepakati oleh para menteri riset dan iptek se-ASEAN," kata Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata saat berbincang dengan detikINET usai membuka acara di Novotel Bandung, Jalan Cihampelas, Selasa (3/5/2011).

Ada 6 program flagship yang diusung dalam APAST. Keenam program tersebut adalah sistem peringatan dini untuk pengurangan risiko kebencanaan, biofuels, aplikasi dan pengembangan open source system (OSS), pangan, kesehatan serta perubahan iklim. Program-program flagship ini kemudian disepakati dalam pertemuan ASEAN COST pada tahun 2010 untuk diimplementasikan hingga tahun 2015.

Indonesia dipercaya sebagai ketua untuk memimpin pembahasan program flagship untuk aplikasi dan pengembangan OSS dan sistem peringatan dini untuk pengurangan resiko kebencanaan.

"Kita bertekad menjadikan OSS sebagai pilihan perangkat lunak yang layak dan dapat digunakan di seluruh negara ASEAN. Baik untuk bidang industri, penelitian, akademik ataupun ke end user. Dalam hal ini masyarakat luas," paparnya.

Sedangkan untuk sistem peringatan dini untuk pengurangan resiko kebencanaan, lanjut Suharna, Indonesia akan mewujudkan sistem pemantauan operasional untuk gempa bumi, tsunami, kabut kebakaran hutan dan banjir.

"Kita punya pengalaman dan berdasarkan pengalaman ini kita berharap bisa menggabungkannya sebagai sebuah sistem secara regional yang bisa memberikan peringatan dini bagi semua negara-negara ASEAN," katanya.

Dalam kegiatan ini, program flagship lainnya, seperti pengembangan biofule diketuai oleh Malaysia, pangan oleh Thailand, kesehatan oleh Singapura dan perubahan iklim diketui bersama antara Filipina dan Vietnam.

"Saya harapkan pertemuan ini tidak hanya menghasilkan roadmap implementasi dari 6 program flagship tersebut. Tapi juga bisa menghasilkan strategi untuk melibatkan entitas lainnya seperti sektor swasta dan industri. Sehingga dengan sinergi tersebut bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi secara nasional ataupun regional ASEAN," tukasnya.

Sumber : detiknet.com

Tablet Acer Takkan Memangsa Pasar Netbook Acer


Banyak pihak mengkhawatirkan pasar netbook yang kian tergerus karena hadirnya tablet-tablet masa kini. Acer pun menampik hal itu. Iconia takkan mengkanibal pasar Aspire One.


"Akankah tablet mangkanibal laptop dan netbook? Di Acer tidak. Walau anda memiliki perangkat PC, anda masih butuh tablet," ujar Presiden Direktur Acer Indonesia Jason Lim, saat peluncuran Acer Iconia A500, bertempat di Hotel Shangrilla, Selasa (3/5/2011).

Hal tersebut disebabkan karena pasar kedua perangkat tersebut memang berbeda. Tablet lebih spesifik ke pasar life style, sementara perangkat mobile PC seperti laptop dan netbook tak hanya sebatas life style, namun juga fungsi produktifitas lain.

"Saat ini saya belum lihat adanya itu (pasar netbook termakan tablet-red). Semua punya pasar masing-masing, imbuh Daniel Rustandi, Marketing Director Acer Indonesia.  

Saat ini, Acer mendaratkan komputer tablet Android Honeycomb pertamanya di Indonesia. Tablet berbasis prosesor dual core Nvidia Tegra 2 250 ini siap meramaikan pasar komputer layar sentuh Tanah Air.

Sumber : detikinet.com

Twitter Facebook Favorites More

 
Powered by Chayo | Corporation